Bagi Theresia Alica, menjadi Icon Putri Tradisional Indonesia bukan sekadar tentang mengenakan busana tradisional, tampil di atas panggung, atau menyandang sebuah gelar. Lebih dari itu, ada tanggung jawab dan cerita yang ingin ia bawa.
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, Theresia justru menemukan alasan untuk kembali melihat sesuatu yang mungkin selama ini dianggap biasa: tradisi dan budaya Indonesia.
“Buat aku, menjadi Icon Putri Tradisional Indonesia itu bukan hanya sebuah pencapaian, tapi juga sebuah kepercayaan. Ada sesuatu yang harus aku bawa dan aku perkenalkan kepada generasi sekarang,” — Theresia Alica
Perjalanan tersebut terasa semakin berarti karena Theresia sendiri tumbuh di tengah berbagai aktivitas. Dunia modeling sudah lebih dulu membentuk dirinya. Ia pernah meraih prestasi sebagai Top Model Indonesia 2022. Di sisi lain, kecintaannya pada olahraga juga membawanya menekuni dancesport dan meraih berbagai prestasi.
Kini, ada peran baru yang membuatnya melihat dirinya dari perspektif berbeda.
Tradisi Harus Bisa “Ngobrol” dengan Generasi Sekarang
Theresia menyadari bahwa berbicara tentang budaya kepada generasi muda tidak bisa selalu dilakukan dengan cara yang terlalu formal.
Menurutnya, tradisi harus bisa hadir di ruang yang dekat dengan anak muda, di media sosial, fashion, musik, konten kreatif, hingga berbagai kegiatan yang membuat budaya terasa relevan dengan kehidupan sehari-hari.
“Menurut aku, tradisi itu bukan sesuatu yang kuno. Justru bagaimana kita bisa membuatnya terlihat menarik dan relate dengan generasi sekarang. Kalau anak muda bisa merasa dekat dengan budaya dan tradisinya sendiri, mereka akan lebih mudah mencintainya.”
Pandangan itu pula yang ingin ia bawa sebagai Icon Putri Tradisional Indonesia.
Baginya, menjadi representasi budaya bukan berarti harus meninggalkan dunia modern. Justru sebaliknya, modernitas bisa menjadi jembatan untuk memperkenalkan kekayaan Indonesia dengan cara yang lebih kreatif.
Dari Panggung ke Panggung, Membawa Cerita Indonesia
Theresia ingin setiap penampilan yang ia jalani memiliki cerita. Bukan sekadar tampil cantik dengan busana tradisional, tetapi mampu menjelaskan makna di balik apa yang dikenakan dan ditampilkan.
Ia ingin masyarakat, terutama generasi muda, tidak hanya melihat budaya sebagai “kostum”, tetapi memahami bahwa di balik setiap kain, motif, tarian, musik, dan tradisi terdapat sejarah serta identitas yang membentuk Indonesia.
“Harapanku, ketika aku tampil sebagai Icon Putri Tradisional Indonesia, orang bukan cuma melihat aku, tetapi juga tertarik untuk mencari tahu tentang budaya yang aku bawa.”
Bagi Theresia, itulah esensi sebuah ikon: menjadi pintu masuk bagi orang lain untuk mengenal sesuatu yang lebih besar.
Visi Theresia: Tradisi Bertemu Masa Depan
Theresia memiliki visi sederhana namun kuat: membawa tradisi Indonesia agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Ia ingin generasi muda tidak merasa bahwa mencintai budaya berarti harus menjadi “ketinggalan zaman”. Sebaliknya, budaya bisa menjadi sesuatu yang keren, kreatif, dan membanggakan.
“Kalau kita tidak mengenal budaya sendiri, siapa lagi yang akan meneruskannya? Aku ingin generasi muda merasa bangga mengatakan bahwa ini budaya kita, ini identitas kita.”
Karena itu, bagi Theresia Alica, perjalanan sebagai Icon Putri Tradisional Indonesia baru saja dimulai.
Dari panggung modeling, dunia dancesport, hingga kini menjadi representasi tradisi, ia ingin terus berkembang sekaligus membawa pesan yang sama: menjadi modern bukan berarti harus melupakan akar.
Sebab pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak hanya dibangun dari teknologi dan inovasi, tetapi juga dari generasi yang tahu dari mana mereka berasal.
Dan bagi Theresia, melestarikan tradisi bukan berarti hidup di masa lalu. Melestarikan tradisi adalah memastikan Indonesia tetap punya identitas ketika melangkah menuju masa depan.