Suasana hangat tercipta di Kirei Café, salah satu tempat nongkrong cozy dan nyaman di Surabaya, ketika Miss Tionghoa Indonesia 2024, Lyona, mengadakan pertemuan penting. Ia bertatap muka dengan dua sosok berpengaruh, yakni Pak Nanang, tokoh pemerhati sekaligus pelaku pelestarian budaya Kota Surabaya, dan Pak Rasmono, tokoh Tionghoa Surabaya yang juga menjabat sebagai Sekjen PMTS (Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya).
Selain itu, Jacqueline, Runner Up Miss Tionghoa Indonesia 2024, juga turut hadir secara daring untuk memberikan dukungan dan menyumbangkan ide dalam diskusi tersebut.
Pertemuan ini bukan sekadar obrolan santai, tetapi menjadi langkah awal sebuah kolaborasi budaya besar demi melestarikan kekayaan warisan Kota Pahlawan yang terkenal dengan keberagaman etnis dan tradisi.
Surabaya, Kota dengan Kekayaan Multikultural
Sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia, Surabaya memiliki mozaik budaya yang unik. Kawasan Pecinan, kampung Arab, pengaruh kolonial Eropa, hingga budaya Jawa berpadu harmonis di tengah geliat modernisasi. Namun, tantangan terbesar hari ini adalah bagaimana budaya lokal bisa tetap lestari dan relevan bagi generasi muda.
Di sinilah peran Lyona bersama para tokoh kota hadir, untuk menggali perspektif warga keturunan Tionghoa dan merangkainya menjadi konten kreatif yang inspiratif.
Diskusi Santai di Kirei Café
Dipilihnya Kirei Café sebagai lokasi bukan tanpa alasan. Dengan suasana cozy, café ini menjadi tempat ideal untuk berdiskusi, berbagi ide, dan mencetuskan gagasan besar.
Dalam obrolan hangat tersebut, Lyona bersama Pak Nanang dan Pak Rasmono membicarakan sebuah project kolaborasi berupa vlog budaya berseri. Program ini nantinya akan diberi tajuk “Sìshuǐ” (泗水), sebuah istilah Tionghoa yang sejak lama menjadi sebutan bagi Surabaya.
Kehadiran Jacqueline secara daring juga memperkaya diskusi. Ia menegaskan pentingnya generasi muda Tionghoa untuk ikut terlibat dalam upaya pelestarian budaya, sekaligus mendukung ide “Sìshuǐ” sebagai media kreatif yang dekat dengan anak muda.
Melalui “Sìshuǐ”, budaya Surabaya akan diperkenalkan kembali dari perspektif warga keturunan Tionghoa, namun tetap mengangkat semangat kebersamaan lintas etnis yang menjadi ciri khas kota ini.
Apa Itu “Sìshuǐ” (泗水)?
“Sìshuǐ” adalah sebutan dalam bahasa Tionghoa untuk Kota Surabaya. Kata ini secara harfiah berarti empat aliran air, merujuk pada sungai dan kanal penting yang menjadi nadi kehidupan kota sejak masa lampau, terutama Sungai Kalimas.
Bagi masyarakat Tionghoa, “Sìshuǐ” bukan sekadar nama, tetapi juga simbol keterikatan sejarah dan budaya mereka dengan Surabaya.
Semangat Lyona & Jacqueline: Budaya Harus Hidup dan Diteruskan
Sebagai Miss Tionghoa Indonesia 2024, Lyona membawa misi lebih dari sekadar simbol kecantikan. Ia hadir dengan semangat pelestarian budaya yang kuat. Baginya, budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga identitas hidup yang harus dijaga, diperkenalkan, dan diteruskan ke generasi berikutnya.
Di sisi lain, Jacqueline menambahkan perspektif segar dengan menekankan pentingnya kreativitas digital dalam mengenalkan budaya kepada generasi Gen Z dan milenial.
Melalui program vlog “Sìshuǐ”, keduanya ingin menghadirkan wajah baru pelestarian budaya yang lebih segar, modern, dan mudah dijangkau masyarakat luas.
Awal dari Kolaborasi Besar
Pertemuan di Kirei Café hanyalah awal dari sebuah perjalanan panjang. Dengan dukungan Pak Nanang sebagai tokoh pelestarian budaya dan Pak Rasmono sebagai representasi komunitas Tionghoa Surabaya, kolaborasi ini diharapkan mampu memberi warna baru dalam upaya menjaga identitas budaya Kota Pahlawan.
Ke depan, masyarakat bisa menantikan hadirnya seri vlog budaya “Sìshuǐ” yang akan menampilkan ragam cerita, tradisi, dan warisan Surabaya. Sebuah langkah kecil yang diyakini akan membawa dampak besar bagi pelestarian budaya di Surabaya.
1 Comment
semangat baru untuk pe;estarian Budaya dari generasi Baru, Semangat Miss Tionghoa Indonesia, semoga semua harapan tercapai dan makin besar di negeri ini